LIPI : SARA berpotensi menghambat Pemilu 2019

LIPI : SARA Berpotensi Menghambat Pemilu 2019

Berita Politik

Berdasarkan survei dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Penyelenggaraan Pemilu 2019 akan ada hambatan yang disebabkan oleh sejumlah potensi yang dilakukan oleh politisi SARA. Potensi ini sangat mempengaruhi jalannya pemilihan umum yang kini sudah dalam masa pendaftaran sejumlah perpol.

Potensi ini diperoleh berdasarkan survei LIPI yang dilakukan kepada 145 para ahli dari bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan. Survei digelar pada April-Juli 2018 di 11 provinsi, yakni Sumbar, Lampung, Jakarta, Jatim, Kaltim, Bali, Sulawesi Tengah, NTB, NTT, Maluku, dan Papua. Survei menggunakan teknik non-probability sampling, di mana sampel ahli dipilih berdasarkan kriteria tertentu.

Koordinatir survei ahli LIPI Esty Ekawati mengatakan bahwa ada potensi yang bisa menghambat penyelenggaraan pemilu. Paling tinggi politisasi SARA dan identitas mencapai 23,6 persen. Kedua, konflik horizontal antarpendukung 12,3 persen, gangguan keamanan 10,4 persen, kurang siap penyelenggara pemilu 6,6 persen, ketidaknetralan penyelenggara pemilu 5,7 persen.

Esty mengatakan solusi untuk menghindari politisasi SARA adalah harus ada penegakan hukum, edukasi politik, reformasi partai politik, dan analisis potensi konflik. Selain kondisi politik, LIPI melakukan survei kondisi sosial budaya menjelang Pemilu 2019 kepada para ahli. Hasil survei menyebutkan kondisi toleransi masyarakat dalam 5 tahun terakhir buruk dengan angka 55,2 persen.

“Toleransi indikatornya politisasi SARA paling tinggi, kemudian stigmatisasi saling tidak percaya, diskriminasi terhadap minoritas dan persekusi, konflik sosial, dan lain-lain,” kata Esty. Meski demikian, kebebasan sipil dalam berpolitik disebut dalam dalam kondisi baik. Hak warga negara negara untuk memilih dan dipilih sudah baik, tapi pengawasannya masih buruk.

Meski demikian, kebebasan sipil dalam berpolitik disebut dalam dalam kondisi baik. Hak warga negara negara untuk memilih dan dipilih sudah baik, tapi pengawasannya masih buruk.

Selantujnya peneliti LIPI Syarif Hidayat memaparkan bahwa harus berhati-hati dengan hasil survei para ahli, khususnya terkait isu SARA yang dapat menghambat pemilu 2019 nanti. Karena isu-isu semacam ini hanya akan mengendalikan para elite untuk memanipulasi isu SARA ini. Potensi tersebut hingga kini belum terlihat adanya hambatan Pemilu yang serius.