Demokrat Sindir Prabowo Terkait Cawapres

Demokrat Sindir Prabowo Terkait Cawapres

Hingga hari ini, koalisi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih juga belum ada kepastian terkait nama yang akan duduk di kursi cawapres. Kemudian Partai Demokrat meminta kepada partai-partai pendukung Prabowo untuk tidak memaksakan kehendak memilih salah satu tokoh sebagai pendamping Prabowo. Pasalnya sebelumnya Prabowo sudah berkoalisi dengan Demokrat untuk menawarkan Kader Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono sebagai cawapres Prabowo.

Hingga saat ini, koalisi Prabowo memang belum deal mengenai cawapres. PKS mendorong Prabowo berpasangan dengan Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Aljufri, sementara PAN meng-endorse Ustaz Abdul Somad. Demokrat memang menyatakan tidak menuntut jatah cawapres, namun nama kadernya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), diusulkan jadi cawapres Prabowo.

Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum PD Ferdinand menyebut pihaknya menyerahkan soal cawapres kepada Prabowo. Dia meminta partai koalisi yang lain melakukan hal yang sama. Informasi yang dihimpun, salah satu partai dikabarkan mengancam akan keluar dari koalisi bila jagoannya tak jadi pendamping eks Danjen Kopassus itu. Meski begitu, Gerindra selalu menyatakan empat partai ini solid untuk maju bersama melawan koalisi pendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019.

Hanya, PAN menyatakan belum memutuskan sikap meski kerap melangsungkan pertemuan dengan Gerindra cs. PAN masih menunggu hasil rakernas yang akan digelar awal pekan depan.

PAN melihat Prabowo masih meragukan semua anggota koalisinya, sehingga dia belum memberikan kepastian tentang nama cawapres yang akan dipilih di Pilpres Cawapres 2019 ini. Karena menurutnya, Prabowo terlalu banyak menwarkan ke satu-satu parpol di koalisinya untuk dijadikan cawapresnya nanti.

Prabowo Subianto-Salim Segaf Al Jufri Kawin Politik

Prabowo Subianto-Salim Segaf Al Jufri Kawin Politik

Akhirnya Ijtima Ulama (IU) mengumumkan hasil dukungan mereka kepada Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, untuk menjadi calon presiden 2019. Sedangkan untuk cawapresnya, Ijtima Ulama memiliki dua nama yakni Ustadz Abdul Somad, dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.

Alasan Prabowo, “saya pikir ulama nggak berperan ulama saja, ulama punya peran kapasitas lebih namun ulama memang istikamah dalam berdakwah dan menyampaikan apa yang harus disampaikan, tapi keterwakilan umat Islam nggak pernah diakomodir, maka dari itu ijtima mengusulkan kedua cawapares dua-duanya yang punya ketokohan sebagai ulama,” kata Ketum GNPF-U Yusuf Martak saat konferensi pers di Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat, Minggu 29 Juli 2018.

Namun Ijtima Ulama tak menyebut nama Habib Rizieq Syihab sebagai capres atau cawapres. menurut mereka, justru Habib Rizieq yang mengusulkan nama Prabowo. “Habib Rizieq itu pendukungnya sangat banyak sekali, tapi rekomendasinya Habib Rizieq semalam, rekomendasinya pasangan Prabowo dan Salim Segaf dan Prabowo-Ustaz Somad, kalau orang biasa cukup nggak cukup dipaksain itulah bedanya,” ungkap Yusuf Martak.

“Prabowo-Habib Salim pasangan tawazun (seimbang) antara ketegasan tentara dan kelembutan ulama, Jawa non-Jawa, nasionalis-religius, plus barokah darah nabi dalam diri Habib Salim,” kata Ustaz Abdul Somad.

Ustaz Somad lebih memilih untuk fokus di dunia pendidikan dan berdakwah. Dia akan tetap memberi masukan positif untuk Prabowo maupun Salim Segaf. Sementara Salim Segaf belum menanggapi rekomendasi para ulama ini. Namun Ketua DPP PKS Ledia Hanifah berterima kasih atas perhatian paa ulama mencalonkan Salim Segaf.

Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Sandiaga Uno juga memuji masukan para ulama tersebut. Menurutnya sosok Salim Segaf punya pengalaman banyak.

Sekanjutnya, apakan Prabowo dan Salim Segaf akan mampu maju hingga ke kursi yang mereka dambakan ? Lalu bagaimana dengan rencana dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ?

Jawaban tegas SBY terkait hubungannya dengan Presiden Joko Widodo

Jawaban SBY Terkait Hubungannya Dengan Jokowi

SBY tidak harus pamit dengan beliau (Joko Widodo), SBY bukan bawahan Jokowi, dan partai Demokrat bukan koalisinya Presiden Pak Jokowi“. Kalimat tersebut diucapkan SBY saat ditanya oleh salah seorang wartawan yang hadir di kediaman SBY, usai acara pertemuannya dengan Zulkifli Hasan, Rabu 25 Juli 2018.

Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, telah melakukan sebuah pertemuan dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan pada hari Rabu 25 Juli 2018 dua hari lalu. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas terkait nasib koalisi antara kedua partai pada Pilpres 2018 nanti.

Usai melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di kediaman, SBY menanggapi sejumlah pertanyaan dari para wartawan-wartawan tanah air erkait Pilpres 2019. SBY menegaskan tentang kendala koalisinya yang dikabarkan muncul dari Presiden Joko Widodo, dan ia juga menyinggung tentang hubungan dirinya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang memang masih berjarak.

Mantan Presiden RI periode tahun 2004 – 2014 ini juga sempat ditanya apakah ada keinginan untuk bertemu dengan Megawati guna menyelesaikan permasalahan yang membuat jarak selama ini. SBY menyatakan bahwa ia sudah berusaha untuk menjalin komunikasi kembali dengan Megawati dalam 10 tahun terakhir ini.

Begitu juga dengan suami Megawati yang juga berusaha memulihkan hubungan keduanya. Almarhum Taufiq Kiemas semasa hidupnya juga berusaha untuk memperbaiki silaturahim antara Megawati Soekarnoputri dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pertemuan itu, SBY sempat ditanya soal “tidak pamit” saat pertmuannya dengan Joko Widodo bersama anaknya yang akrab di panggil AHY. SBY menjawab dengan sedikit emosi, bahwa partai Demokrat bukan koalisinya Jokowi. Namun SbY juga menyampaikan bahwa Demokrat siap jika Presiden Joko Widodo memintanya untuk berada di dalam pemerintahan.