Berita Politik

Polisi yang Selundupkan Penonton Tanpa Tiket ke GBLA Diperiksa Propam

Oknum anggota Polri berinisial Brigadir Er, yang diduga menyelundupkan sejumlah penonton tanpa tiket masuk ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Gedebage, Kota Bandung, diperiksa Propam Polrestabes Bandung. Brigadir Er terancam sanksi administratif.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo mengatakan, Brigadir Er pada Sabtu 22 Juli 2017, berjaga di pintu O, Tribun Timur Stadion GBLA Kota Bandung, saat pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Dia beralasan terpaksa memasukkan penonton tanpa tiket karena mereka teman-teman anaknya.

Meski begitu, tindakan Brigadir Er melanggar disiplin. Bridgadir Er juga dinilai bisa jadi memasukkan banyak orang. Karena itu, Polrestabes Bandung memberikan tindakan tegas teterhadap yang bersangkutan. Sanksi yang diterima tergantung tingkat kesalahannya, bisa berupa teguran, mutasi, penundaan kenaikan pangkat, dan pemberhentian secara tidak hormat.

“Saat ini, Brigadir Er sedang diperiksa intensif oleh Propam. Pemeriksaan masih berlangsung dan sidang disiplin akan digelar paling lambat minggu ketiga Agustus ini. Kami tidak pandang bulu terhadap siapa pun pelaku pelanggaran,” kata Hendro di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Jumat (4/8/2017).

Disinggung mengenai perwira yang memimpin penjagaan di pintu O GBLA, Hendro mengemukakan, pengamanan setiap pintu stadion memang dipimpin oleh seorang perwira. Saat itu, yang melakukan pengamanan di pintu O adalah Ipda Suk. “Ipda Suk diperiksa juga. Dia tahu atau tidak tindakan anggotanya. Kalau mengetahui tapi tidak melakukan tindakan apapun, tentu dia ikut melakukan pelanggaran,” ujar Hendro.

Diberitakan sebelumnya, aksi oknum polisi memasukkan penonton tanpa tiket ke GBLA Kota Bandung terekam video. Video berdurasi kurang lebih 40 detik diunggah melalui akun Twitter dan Instagram @officialvpc pada Selasa 25 Juli 2017 lalu.

Dalam video itu, terlihat para penonton tengah antre untuk masuk ke dalam stadion. Di sisi lain, tampak beberapa orang penonton tanpa tiket leluasa masuk ke stadion. “Oknum, oknum. Tukang tiket, asup tanpa tiket, duit duit. Itu make tiket, itu tanpa tiket, enggak seru,” kata seseorang dalam video tersebut.

Sepekan Buron, Polisi Penabrak Teman Wanitanya hingga Tewas Serahkan Diri

Setelah sepekan buron, oknum anggota Polantas Polsek Pangkalan Kuras, Polres Pelalawan, Riau, Aipda AP menyerahkan diri. Aipda AP sebelumnya menabrak teman perempuannya, MM (24) yang menyebabkan korban tewas karena sempat terseret.

Kapolres Pelalawan AKBP Kaswandi mengatakan, Aipda AP diamankan setelah berkeinginan menyerahkan diri dan bersedia menerima hukuman. “Kemarin dia menelpon pimpinannya, Kapolsek Panggalan Kuras untuk menyerahkan diri dan minta dijemput dari rumahnya. Kemudian anggota pun ke sana menjemput Aipda AP,” ucap AKBP Kaswandi, Selasa (18/7/2017).

Polsek Pangkalan Kuras lalu berkoordinasi dengan Polres Pelalawan terkait kasus Aipda AP. Tim Propam Polres Pelalawan pun membawa Aipda AP. “Setelah dilakukan pemeriksaan, tersangka langsung kami tahan,” ujarnya.

Selama pelariannya, sambung Kapolres, Aipda AP mengaku kabur ke Pekanbaru yang berjarak 1,5 jam dari lokasi tewasnya MM. Tersangka mengaku ingin menenangkan diri. “Setelah itu, dia pun balik lagi ke Pelalawan dan menyatakan menyerahkan diri,” tandasnya.

Dalam kasus ini, petugas juga menyita satu unit mobil Daihatsu Feroza yang dipakai tersangka. Diberitakan sebelumnya, MM (24), tewas akibat terseret mobil Aipda AP. Sebelum terseret mobil, korban sempat terlibat cekcok dengan AP.

Peristiwa itu berawal dari percekcokan antara korban dan Aipda AP di hotel di Pangkalan Kerinci, ibu kota Kabupaten Pelalawan, pada Selasa, 11 Juli 2017 sore. Keributan berlanjut hingga pelataran parkir hotel.

Aipda AP bergegas masuk ke mobil jenis jeep miliknya dan korban mengikutinya. Aipda AP tidak peduli. Dia tetap menghidupkan mesin dan mempercepat laju mobilnya. Melihat hal itu, MM memegangi kaca spion mobil korban.

Karena terus memegangi kaca spion, korban pun terseret hingga beberapa meter. Akibat lukanya yang cukup parah setelah terseret mobil, korban terjatuh. Namun saat korban terjatuh, Aipda AP membiarkannya dan pergi begitu saja tanpa memberikan pertolongan. Korban sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Di Hadapan Ratusan Wali Murid, Kapolres Kobar Minta Maaf

Jajaran Polres Kotawaringin Barat, Kalteng yang dipimpin langsung Kapolres Kobar AKBP Pria Premos menyambangi SDN 1 Kumai Hilir.

Kedatangan Kapolres untuk bertemu seluruh wali murid guna meminta maaf sekaligus memperbaiki citra Polri dimata publik, Rabu (19/7/2017).

Hal ini dilakukan pascapenganiayaan yang dilakukan Brigadir Polisi ASS terhadap bocah kelas 6, MA pada Jumat lalu. “Ini harus saya lakukan sebagai pimpinan di Polres Kobar untuk meminta maaf kepaa seluruh guru, wali murid dan para murid di SDN 1 Kumai Hilir. Apa yang dilakukan anak buah saya sudah diluar batas dan pasti akan saya beri sanksi seberat beratnya,” ujar Premos di hadapan ratusan wali murid.

Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala Dinas Pendidikan Kobar Aida Lailawati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Zaenah dan sejumlah pejabat daerah lainnya.

apolres memastikan peristiwa ini tidak akan terulang lagi di wilayah Kotawaringin Barat. Kemudian terkait ancaman Brigadir Polisi ASS kepada sejumlah guru juga dipastikan tidak akan berbuntut panjang.

“Saya jamin keselamatan seluruh guru, dan murid di sini. Jadi jika terjadi apa apa saya yang akan bertanggung jawab,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kobar Aida Lailawati mengatakan cukup menyesalkan atas kejadian tersebut yang terjadi di lingkungan sekolah dan korbannya anak yang masih kecil.

“Ini jangan sampai terulang lagi. Apalagi pelakunya aparat penegak hukum. Saat ini kita berupaya menghilangkan traumatik seluruh guru dan murid di sini, Itu yang harus cepat dilakukan,” pungkasnya.

Dinas Perlindungan Anak Investigasi ke Sekolah Siswa yang Dianiaya Oknum Polisi

Penganiayaan yang dilakukan oknum polisi Brigpol ASS terhadap siswa kelas 6 SD Negeri Kumai Hilir, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), terus mendapat perhatian dari publik dan juga istansi terkait.

Senin (17/7/2017) siang, tim dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Pemkab Kobar mengunjungi SD Negeri 1 Kumai Hilir dan rumah siswa, MA (12).

Tim yang hadir dipimpin Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak Eni Pujirahayu dan Kabid Perlindungan Perempuan Heppy Septiana beserta jajarannya. Tim langsung menemui kepala sekolah dan juga para guru untuk menggali informasi terkait peristiwa penganiayaan tersebut.

“Kehadiran kami ke sini untuk menggali informasi terkait penganiayaan yang dilakukan oknum polisi terhadap anak didik di sini. Kami ingin tahu sendiri dan nantinya akan kami lakukan langkah-langkah recovery terhadap para siswa di sini, terutama korban MA,” ungkap Eny Pudjirahayu kepada wartawan.

Selain menemui guru, Eny juga singgah ke ruang kelas 6 untuk menemui para siswa teman korban dan anak oknum polisi. Eny mengaku prihatin karena penganiayaan itu dilakukan oleh orang yang seharusnya mengayomi warga. “Saat saya tanyakan ke semua murid di kelas, mereka mengaku masih takut dan trauma karena mereka melihat sendiri saat oknum polisi menampar korban MA,” tuturnya.

Menurut Eny, tak hanya korban dan anak oknum polisi yang akan mendapatkan pendampingan psikis, tapi juga semua siswa yang melihat kejadian tersebut. DP3A Kobar akan memberikan arahan dan pendekatan supaya para siswa tidak lagi trauma.

“Eksesnya luas, tak hanya korban MA yang mengalami trauma, tapi juga semua murid yang melihat mengaku masih takut. Ini akan kami bicarakan dengan pihak kepolisian supaya bersama-sama memperbaiki mental mereka,” paparnya.

Ia mengatakan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kalteng juga akan datang ke Kobar untuk menangani kasus ini. “Rencananya pihak KPAI Kalteng datang ke Kobar Selasa (18/7/2017),” ujarnya.

Gelapkan Barang Bukti Sabu-Sabu, Polda Jabar Tetapkan 9 Anggota Polres Sukabumi Tersangka

Polda Jabar akhirnya menetapkan sembilan oknum polisi Polres Sukabumi sebagai tersangka karena diduga menggelapkan barang bukti sabu-sabu.

Kesembilan oknum polisi tersebut antara lain, tujuh orang bertugas di Satres Narkoba Polres Sukabumi, yaitu Iptu S, Aipda IS, Bripka BS, Bripka FH, Brigadir AA, Briptu BMR, dan Bripda CS. Sedangkan dua oknum lainnya, Bripka DD dan Brigadir DZ yang bertugas di Polsek Simpenan dan Polsek Kalibunder.

Mereka ditangkap oleh anggota Subdit I Ditres Narkoba Polda Jabar di Kabupaten Sukabumi pada Kamis 3 Mei 2018. “(Kesembilan oknum polisi) Sudah ditetapkan tersangka,” kata Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Selasa (8/5/2018).

Agung mengatakan, oknum polisi tersebut saat ini sudah diproses hukum pidana murni dan kode etik. Polisi juga sudah menahan kesembilan oknum tersebut. Mereka ditahan di ruang tahanan Mapolda Jabar. Mereka akan menjalani proses pemeriksaan mendalam oleh Dit Res Narkoba Polda Jabar.

“Total tersangka sekarang sembilan orang. Tujuh dari Satnarkoba, dua dari polse. Mereka sudah ditahan. Kasus ini pidana murni. Saya akan ajukan ke pengadilan negeri,” ujarnya.

Diketahui, pada Kamis 03 Mei 2018, sekitar pukul 21.00 WIB di Mapolres Sukabumi, Subdit 1 Dit Res Narkoba Polda Jabar mengamankan delapan anggota Polres Sukabumi. Kedelapan polisi itu diduga terlibat perkara penggelapan barang bukti sabu-sabu dari hasil pengerebekan.

Sementara pelaku, pemilik sabu, berhasil melarikan diri saat digerebek. Delapan polisi yang diamankan antara lain, Iptu S, Aipda IS, Bripka BRS, Bripka F, Brigadur AA, Brigadir DZ, Briptu BMR, dan Bripda CS.