Mahmud MD
Mahmud MD

Alasan Mengapa Menteri Takut Cairkan Anggaran Covid-19

Alasan Mengapa Menteri Takut Cairkan Anggaran Covid-19 – Apabila kalau dilihat dengan kembali bahwa kemarahan dari bapak presiden jokowi beberapa waktu yang lalu. Di dalam sidang kabinet terhadap setiap menterinya merupakan salah satunya karena para menteri menggunakan anggaran penangganan covid-19 yang tentunya sangat minim.

Anggaran ini sudah ada tapi tidak digunakan untuk maksimalkan seperti dari membayar insentif bagian dari tenaga kerja medis. Dan banyak hal lainnya yang menjadi suatu kaitan dengan menangani covid-19. Menteri dari koordinator bagian dari bidang politik hukum dan setiap keamanan atau menkopolhukum mahmud MD , memberikan ungkapan yang berupa bahwa dengan banyaknya menteri yang tidak akan berani untuk mencairkan dana anggarannya. Hal ini tentu saja bisa disebabkan oleh takutnya terhadap bagian dari audit BPK.

Akan tetapi , ada juga tidak takut , takut kepada pihak dari BPK. Tentunya ini bisa mendatangkan ke dalam ketua BPK. Pak ini banyak sekali menteri yang takut untuk keluar kan dana anggaran uang sampai sampai kepada bapak presiden marah marah kenapa ya pak ? Ujar dari Mahmud MD di gedung Grahadi surabaya.

Alasan Mengapa Dana Anggaran Covid-19 Takut Untuk Di Cairkan

Ada juga kemungkinan hal besar lainnya kalau seorang penulis mencermati bisa juga untuk jadikan menteri tersebut beranggapan kalau anggaran ini belum perlu untuk waktu yang sekarang ini untuk di keluarkan.  Sudah cukup banyak sekali anggaran yang sebelumnya untuk membeli alat alat pelindung diri , ventilator dan alta kesehatan lainnya dan juga untuk memberikan bantuan sosial juga sudah cukup melalui anggaran dana yang sudah keluar sebelumnya.

Masalahnya pada waktu pencairan dana insentif tenaga medis juga. Mempunyai kemungkinan yang besar belum tepat waktu untuk dikeluarkan pada waktu yang sekarang ini. Atau juga bisa untuk menunggu waktu yang pastinya tepat. Dan ada juga dari penulis ini kalau dilihat dari penjelasannya Bapak Presiden Jokowi waktu lalu. Kalau menteri ini takut akan menggeluarkan dana anggaran covid-19.

Karena nantinya pasti akan ada oknum oknum yang menggunakan dana anggaran tersebut untuk kepentingan pribadi mereka. Bisa dilihat juga kalau dari bagaimana sebuah pemberitahuan pemotongan uang bantuan sosial terhadap masyarakat buat oknum oknum yang pastinya tidak bertanggung jawab nantinya.

Banyak Hal Yang Akan Terjadi

Jadi nantinya sudah pasti akan banyak hal yang terjadi dengan demikian. Bisa jadi akan ini terancam pribadi dari berbagai menteri yang mengeluarkan anggarannya tersebut. Dan ini akan bisa di berikan satu dugaan dengan melakukan suatu korupsi dengan alasan penangganan covid-19. Penulis ini juga diperlihat kan kearah sana yang memang sebenarnya juga pada merasa ketakutan kepada setiap para menteri dalam melakukan proses menggunakan uang anggarannya.

Memang akan sangat memungkinkan sekali buat para menteri tidak akan mampu memberikan perhitungan secara jelas. Kemana mana saja dana dana dari anggaran itu yang nantinya akan digunakan demi untuk memberikan satu tanggung jawab untuk kedepannya terhadap presiden maupun kepada Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.

Pasti ada juga menteri yang masih akan merasa takut takut di duga dengan memberikan wewenang dana anggaran penanganan Covid-19. Padahal disini dia tidak akan berbuat demikian atau ada juga setiap menteri yang merasa kurang dalam memberikan management keuangan publik di dalamnya.

Akan tetapi , dari apapun itu sebenarnya ini juga harus adanya keberanian dulu pastinya. Management keungan , sense of crisis terhadap beberapa penderitaan dan setiap kesulitan yang di rasakan oleh rakyat. Memang pada intinya dari rakyat yang membutuhkan suatu bantuan selama masa pandemi menyerang.

Maka dalam pikiran para rakyat ini hanya membutuhkan bantuan. Tanpa harus mempertimbangkan ketakutan buat para menteri dengan hal dari mengeluarkan anggaran penanganan covid-19. Tentu saja untuk harapannya beberapa waktu ini. Akan jadi perubahan sebelum isu isu dari reshuffle ini akan menjadi sebuah hal kenyataan. Kalau memang untuk menteridalam beberapa minggu ini atau beberapa bulan kinerjanya baik. Sangat bisa memungkinkan sekali reshuffle tidak akan bisa terjadi.

Baca Juga : Prabowo Maju Jadi Pilpres 2024

Mabuk dan Tak Pakai Helm, Adri Ditembak Oknum Polisi

Apes dialami AT alias Adri (45) warga Kelurahan Taas, Kecamatan Tikala, Manado terkena tembakan peluru yang diduga pelakunya adalah oknum polisi, Minggu (26/4/2015).

Informasi yang tersiar sebelumnya korban (Adri) yang tengah mabuk minuman keras (miras) ugal-ugalan di jalan dan tak memakai helm.

Meski sudah beberapa kali diingatkan pada petugas patroli, namun Adri tak mendengar mengabaikan perintah petugas.

Mungkin berawal dari kejadian itu, salah satu oknum polisi patroli naik pitam dan menghadiakan timah panas pada punggung Adri.

Adapun TKP peristiwa tersebut di salah satu ruas jalan Kelurahan Tikala Baru, Kecamatan Tikala, Manado.

Usai kejadian tersebut, korban dilarikan ke RS TNI Wolter Monginsidi Teling, dan pagi harinya Kapolresta Manado Kombes Pol Sunarto mengunjungi korban.

“Korban sudah dirujuk siang tadi ke RSUP Prof Dr RD Kandou Malalayang untuk menjalani operasi,” kata Sunarto melalui via handphone, Minggu, (26/4/2015).

Ditanyai apakah peristiwa ini ada keterlibatan oknum polisi Sunarto belum bisa memberikan kepastian. Menurutnya, hasilnya akan dilihat setelah korban menjalani operasi.

“Dari hasil operasinya nanti kita akan lihat. Apakah betul korban terkena tembakan polisi atau bukan, kami belum bisa pastikan,” jelas Sunarto.

Adapun satu luka korban yang diduga ada peluru bersarang itu, terdapat di bagian punggung. Tepatnya, sejajar dengan pusar korban.

Korban yang mengenakan, celana pendek bermotif berbagai perpaduan warna dan kaos dasar putih bergaris hitam dan merah kecil-kecil itu hanya terus merintih kesakitan terbaring di rumah sakit.

Hingga berita ini diturunkan, korban masih menunggu tim medis untuk menjalani operasi, demi mengungkit fakta, benda apa yang sebenarnya bersarang di dalam tubuh pria berambut panjang dan gondrong ini.

Oknum Polisi Majene Tertangkap Bawa Sabu Di Polman

Oknum anggota polisi non aktif yang baru saja keluar dari lembaga pemasyarakatan terkait kasus narkoba kembali ditangkap Satuan Narkoba Polres Polewali Mandar (Polman) dalam kasus yang sama.

Dari tangan tersangka yang diketahui bernama Brigadir Sumarlin ini, polisi mengamankan satu paket sabu-sabu seberat 0,5 gram, serta uang tunai sebanyak Rp900 ribu.

Kapolres Polman AKBP Agoeng Adi Koerniawan, mengatakan, tersangka Sumarlin ditangkap di wilayah Kecamatan Wonomulyo oleh anggotanya saat melakukan operasi.

Saat ditangkap satuan narkoba, oknum polisi ini sempat melakukan perlawanan dan berusaha melarikan diri. Namun, upaya itu tidak berhasil dilakukan.

Kapolres menegaskan, kasus narkoba akan terus menjadi perhatian khusus agar peredarannya tak merajalela di daerah ini. Tak terkecuali apakah itu anggota kepolisian, ataupun siapa saja, pihaknya akan menindak tegas.

“Bahkan, jika oknum polisi yang kedapatan, justru akan mendapat sanksi lebih berat,” ujar Agoeng kepada wartawan di Polewali, Jumat (26/12/2014).

Diketahui, tersangka yang berdasarkan jejaknya terakhirnya bertugas di Polres Majene ini ini sebelumnya telah menjalani hukuman dengan kasus yang sama. Bahkan, tersangka kini dalam proses pemecatan dari kepolisian. Meski, tersangka telah mengajukan banding.

Tersangka Sumarlin diketahui baru keluar dari lembaga permasyarakatan pada bulan September lalu, usai menjalani hukuman dua tahun dalam kasus yang sama.

Pangkat terakhir tersangka saat bertugas di Polres Majene yakni Brigadir dan saat ini tersangka dalam proses pemecatan oleh kepolisian. Bahkan, kali ini tersangka terancam hukuman diatas 5 tahun penjara atas perbuatannya.

Tertembak, Brimob Dilarikan ke RSUD Poso

Seorang anggota Brimob dilarikan ke RSUD Poso, setelah tertembak, Selasa (24/2/2015). Brimob bernama Bharada Edy AN Siregar itu menderita luka tembak pada bagian tangan kanan dan kaki kanan.

Terlukanya anggota Brimob tersebut diduga karena letusan senjata api laras panjang milik rekannya sendiri saat rombongan anggota Brimob itu berada di atas truk polisi.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, peristiwa itu terjadi saat para anggota Brimob tersebut sedang berada di atas truk seusai mengisi bahan bakar minyak di SPBU Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (24/2/2015) pukul 09.50
WITA.

Truk yang bergerak tiba-tiba mengakibatkan senjata api laras panjang milik rekan Edy yang duduk di sampingnya meletus dan mengenai Bharada Edy.

Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Tambarana untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun, 20 menit kemudian korban langsung dirujuk ke RSUD Poso.

Kedatangan anggota Brimob yang terluka itu terpantau mendapatkan pengawalan ketat dari anggota Brimob lainnya yang kemudian menghalang-halangi bahkan mengusir seluruh wartawan media cetak dan elektonik yang sedang melakukan peliputan di RSUD Poso.

Hingga laporan ini disusun, pihak kepolisian di Poso belum memberikan keterangan resmi terkait insiden itu.

Di Poso, saat ini setidaknya terdapat 1.000 personel Brimob yang kebanyakan merupakan BKO dari Brimob Kelapa Dua. Mereka mendukung Operasi Camar Maleo yang telah digelar sejak tanggal 26 Januari 2015 terkait keberadaan kelompok bersenjata yang pada 15 Januari silam menewaskan tiga warga Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan.

Wakapolsek Gunungpati Ancam Bunuh Kapolsek

Insiden memalukan mencoreng Korps Bhayangkara kembali terjadi di Semarang. Diduga dalam kondisi mabuk, Wakapolsek Gunungpati AKP H mengancam membunuh Kapolsek Gunungpati dengan gobang, merusak ruang piket intel, dan merusak mobil Kapolsek.

Informasi yang dihimpun dari sumber KORAN SINDO, insiden itu terjadi Selasa lalu sekira pukul 20.00 di Mapolsek Gunungpati.

Insiden berawal sekira pukul 16.00 ketika AKP H bersama dua SPG rokok berkaraoke di sebuah kafe di daerah Nongko Sawit, Gunungpati.

Pukul 19.30, seorang karyawan kafe melaporkan AKP H mengamuk dan menyekap salah satu SPG. Atas insiden ini, Kapolsek Kompol Ahmadi memerintahkan Aiptu Mian untuk mengecek lokasi dan mengajak AKP H kembali ke Mapolsek Gunungpati.

Namun, Aiptu Mian justru dimarahi. “Mengatakan, Kapolsek disuruh aja ke sini. Kamu masih bintara, aku ini AKP dan Wakapolsek,” kata salah satu sumber KORAN SINDO.

Ternyata, tak lama kemudian AKP H datang ke Mapolsek membawa sajam jenis gobang. Kapolsek justru kena marah oleh Wakapolsek. Bahkan, Wakapolsek mengancam menggorok leher Kapolsek.

Kapolsek yang ketakutan menyelamatkan diri. AKP H terus mencari-cari Kapolsek dan Aiptu Mian. Karena tidak ketemu, AKP H bahkan mengancam membunuh tiga polisi di sana.

Dia lalu merusak ruang piket intel dan merusak mobil Karimun milik Kapolsek. Setelah mengamuk di Mapolsek, AKP H pergi bersama SPG dan pemilik kafe. Informasi yang dihimpun, hingga saat ini AKP H masih buron.

Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Tengah Kombes Pol Hendra Supriatna, mengatakan hingga Selasa (24/2/2015) siang dia belum mendapat laporan AKP H sudah diamankan.

“Sampai sekarang saya belum dapat laporan (DPO). Saya sudah perintahkan agar dia diamankan dan dibawa ke Mapolda,” ungkapnya saat dikonfirmasi KORAN SINDO via telepon seluler, Selasa (24/2/2015) siang.

Terkait perusakan ruang Unit Intel, mengancam membunuh Kapolsek, dan merusak mobil, Hendra Supriatna menyebut pihaknya mendorong agar itu diproses pidana dulu.

“Setelah itu, baru diproses internal. Itu bisa kode etik, ancaman terberatnya PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat) alias pecat. Dia (AKP H) belum dimutasi ke Polda,” lanjutnya.

Terpisah, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan bawahannya itu sudah tidak layak menjabat.

“Mutasi dan sanksi internal tentu akan menyusul. Itu harus diproses,” ungkapnya di Mapolrestabes Semarang.

Saat ditanyakan status Wakapolsek itu menjadi DPO alias buron, Djihartono mengaku tidak tahu. “Saya tidak tahu kalau buron.